Hari
ini, lagi-lagi kudapati kau tersenyum menatapku diam-diam. Aku tahu,
sedari tadi yang kau perhatikan bukan guru di hadapanmu, tapi aku. Aku yang
duduk tak jauh di belakangmu. Aku yang sesekali mengalihkan pandanganku dari
guru hanya untuk memperhatikanmu. Aku yang kau senyumi beberapa kali hari ini.
Tiga
tahun aku pendam perasaan ini. Aku ingin tertawa mengingat waktu yang ku
gunakan untuk menyukaimu dalam diam. Aku ingin menangis mengingat semua yang
sudah ku lakukan demi menginginkanmu dekat denganku. Aku dulu seperti orang
bodoh. Seperti orang gila. Ya! Memang kenyataannya gila. Aku tergila-gila
padamu. Sungguh, ini sangat di luar logika.
Aku
punya banyak cara untuk mendapatkan semua informasi tentang dirimu yang masih
misteri bagiku. Aku melakukan hal bodoh itu cukup lama. Mengagumimu hanya dari
jauh, tanpa punya satu saja alasan untuk mendekatkan diriku padamu.
Aku,
ternyata terlalu naif mengira dirimu akhirnya bisa luluh padaku. Beberapa kali
aku kau bawa terbang tinggi. Tapi ternyata kau membawaku terbang hanya untuk
menjatuhkanku. Termasuk hari ini, saat kau tersenyum padaku. Tak dapat
kulukiskan dengan jelas perasaanku hari ini. Ingin rasanya membalas senyumanmu.
Tapi aku takut terjatuh lagi. Pada akhirnya aku hanya bisa mengalihkan pandanganku.
Aku hanya bisa mengacuhkanmu.
Bagaimana
tidak? Detik ini, menit ini, kau milik seseorang. Seorang gadis cantik. Adik
kelas kita. Pintar. Memesona. Sangat berbeda denganku. Sangat standarmu. Sangat
serasi denganmu.
Beberapa
kali aku memergoki kalian bertemu di luar jam pelajaran. Kalian sungguh serasi.
Cantik dan tampan. Kalian meninggalkanku dalam tangis yang kusimpan sendirian.
Aku
tau, aku sadar sepenuhnya. Aku tak akan mungkin bisa bersanding denganmu. Lalu,
apa maksud senyuman misteriusmu selama ini? Mengapa kau harus menatapku
diam-diam? Mengapa kau harus menjaga bicara dan tingkahmu di depanku? Mengapa
kau menjatuhkanku di atas ketinggian? Mengapa harus kau yang kusayangi dalam
waktu selama ini? Mengapa harus aku yang merasakan sakit ini sendirian? Mengapa
harus kau, yang kucintai dalam diam?